Anemia Defisiensi Besi (ADB)

Prosedur ini sebagai acuan dalam menegakkan diagnosis dan penanganan Anemia Defisiensi Besi.

Definisi :

Anemia yang disebabkan kekurangan besi untuk sintesa Hemoglobin.

1. Kriteria Diagnosis :

Diagnosis ADB ditegakkan atas dasar adanya pucat yang berlangsung lama (kronik) disertai komplikasi yang ringan antara lain kelainan kuku (kolonikia), atrofi papil lidah, glositis dan stomatitis yang dapat sembuh dengan pemberian besi, dapat pula memberikan komplikasi yang berat misalnya penurunan daya tahan tubuh terhadap infeksi, gangguan prestasi belajar, atau gangguan mental yang lainnya yang dapat berlangsung lama bahkan menetap.

Pada pemeriksaan fisis hanya ditemukan pucat tanpa pendarahan (petekie, ekimosis, atau hematoma ) maupun hematomegali, limpa kadang sedikit membesar tetepi umumnya tidak teraba.

Laboratorium menunjukkan anemia hipokrom mikrositer, jumlah eritrosit umumnya normal tetapi kadang rendah. MCV↓, MCH↓, MCHC ↓, jumlah retikulosit normal atau sedikit naik, Fe serum↓, TIBC↑, saturasi transferin < 16%, Kadar feritin serum 100ug/dL. Jumlah leukosit, hitung jenis dan trombosit biasanya normal kecuali disertai infeksi.

2. Pemeriksaan Penunjang :

Hb, leukosit, trombosit hitung jenis, morfologi darah tepi, Indeks eritrosit : MCV, MCH, MCHC, Retikulosit, FEP, Feritin serum, Fe serum dan TIBC

3. Terapi :

Umum :

Makanan gizi seimbang

Mengatasi faktor penyebab (infeksi dan perdarahan)

Khusus :

Pemberian Zat Besi

•Preparat besi diberikan sampai kadar Hb normal, kemudian dilanjutkan sampai cadangan besi terpenuhi.sebaiknya dalam bentuk fero karena lebih mudah diserap daripada bentuk feri.

•Besi dapat diberikan secara oral atau parenteral dengan dosis 3 – 6 mg besi elemental / kgbb/hari. Pemberian secara oral berupa ferosulfat merupakan cara yang mudah, murah dan hasilnya memuaskan untuk mengurangi efek samping mual dan sakit perut, diberikan dalam 2 dosis segera sesudah makan. Pemberian dilanjutkan minimal 8 minggu.

•Pemberian parenteral iron dextran complex im dilakukan bila dengan pemberian secara oral gagal antara lain akibat melabsorbsi atau efek samping syok anafilaktik.

•Dosis besi (mg) = BB (kg) x kadar Hb yg diinginkan x 2,5

•Asam askorbat 100 mg tiap 15 mg Fe elemental untuk meningkatkan absorbsi besi

•Hasil pengobatan dinilai dengan pemeriksaan Hb dan retikulosit seminggu sekali, atau sampai 2 bulan setelah Hb normal tanpa pemeriksaan SI dan feritin.

Tranfusi Darah

•Tranfusi darah hanya dilakukan bila kadar Hb kurang dari 6 g/dl atau kadar Hb≥ 6g/dl disertai lemah, gagal jantung, infeksi berat atau akan menjalani oprasi.

•Diberikan packed red cells (PRC) dosis 2 – 5 mL/kgBB, per satu kali pemberian. Diberikan untuk meningkatkan Hb sampai > 7 g/dL

Pengobatan profilaksis:

•Diberikan pada bayi-bayi dengan depot besi rendah atau diet besi kurang.

•Parenteral/peroral tidak lama setelah lahir.

•Dosis: 8-15 mgFe++ sehari.

•Profilaksis dapat diteruskan 6 – 10 bulan.

Pendidikan dan Pencegahan :

Pendidikan gizi :

•Pendidikan gizi merupakan hal yang penting dalam pencegahan defisiensi besi. ASI merupakan besi yang kurang dibandingkan dengan susu sapi. Tetapi penyerapan /bio availabilitasnya lebih tinggi ( 50% ) dari susu sapi. Bahkan susu sapi dapat menghambat penyerapan besi yang berasal dari sumber makanan lain. Karenanya pemberian ASI eksklusif perlu digalakkan dengan memberi pula makanan tambahan sesuai dengan usia.

•Perlu dijelaskan bahwa kadar besi pada ikan, hati, daging, lebih tinggi ketimbang pada beras, bayam, gandum, kacang kedelai. Penyerapan besi nabati dihambat oleh tanin, kalsium dan serat dan dipercepat oleh Vit C, HCl, Asam Amino dan fruktosa. Besi yang berasal dari ikan, hati, daging tidak dipengaruhi oleh hal hal itu.

Pendidikan kebersihan lingkungan

•Pendidikan kebersihan lingkungan untuk mengurangi kemungkinan infeksi bakteri/ infestasi parasit sebagai penyebeb defisiensi besi karena infeksi dan defisiensi besi merupakan lingkaran ( circulus vitiousus ) yang harus diputus.

Pemberian suplemen/fortifikasi besi :

•Pencegahan primer : Pemberian ASI eksklusif sesudah 4-6 bulan masih menyebabkan terjadinya defisiensi besi. Karenanya perlu suplementasi besi sebagai pencegahan primer.

Bila digunakan susu formula perlu dipilih formula yang difortifikasi dengan besi.

•Pencegahan sekunder : Bayi yang disertai satu atau lebih kriteria resiko yang seperti yang tercantum dalam tabel 1 harus menjalani skrining untuk kemungkinan menderita defisiensi besi. Skrining meliputi pemeriksaan darah tepi lengkap dan bila ada biaya sebaiknya memeriksa kadar feritin serum dan saturasi transferin.

Diambil dari : http://ebookfkunsyiah.wordpress.com


One response to this post.

  1. Posted by Anak fk cerdas dan kreatif on September 7, 2009 at 5:39 PM

    Thanks infonya………….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: