HIDUP ADALAH CERMIN, BersihkanLah Cermin itu

Saudara muslimku semuanya, HIDUP ADALAH CERMIN. Orang-orang yang beruntung adalah orang-orang yang berhasil menjadikan segala sesuatunya sebagai cermin bagi dirinya, sehingga ia selalu terinspirasi untuk melakukan intropeksi, melakukan yang lebih baik dari yang sebelumnya.
Masa lalu kita adalah cermin, impian kita adalah cermin, lingkungan kita adalah cermin. Begitupun pula nilai ujian kita, asaudara-saudara kita, tetangga kita, teman bermain kita, orang tua kita, alam semesta semuanya adalah cermin, dan siapapun atau apa pun yang pernah, sedang, dan akan berhubungan dengan kita, baik langsung maupun tidak langsung adalah cermin bagi diri kita. marilah kita bercermin dengan kehidupan kita, agar hari ini dan hari-hari setelahnya selalu lebih baik dari sebelumnya. Sudahkah hari ini kita bercermin ? Jika kita melihat hal yang tidak berkenan di dalamnya, jangan hancurkan cermin tersebut.
Orang-orang yang rugi adalah orang-orang yang tidak pernah bercermin dari kehidupannya. Dia merasa terpisah dari kehidupan di sekitarnya. Bahkan dia merasa terpisah dari kehidupan di keluarganya. Dia merasa keburukan keluarganya sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya. padahal ketika kita melihat keburukan pada saudara kita, berarti sebenarnya ada keburukan pada diri kita yang sedang dipantulkan. Jika saudara kita sering bicara kasar, sering bertengkar, sering berbohong, jarang mengerjakan pe-er, dan seterusnya, maka itu adalah peringatan buat kita. cermin itu bisa sebagai ladang intropeksi, atau bisa juga sebagai ladang aktualisasi amar makruf nahi mungkar.

Ya, saudara-saudara kita adalah cerminan kita apa adanya.Oleh karena itu, untuk memperbaiki keburukan dan kekurangan saudara kita, awalilah dengan jiwa besar kita untuk memperbaiki diri sendiri. Apakah yang akan kita lakukan ketika kita bercermin lalu di sana kita melihat rambut kita tidak rapi? Memperbaiki rambut kita atau menyalahkan cerminnya ?
Rasulullah Saw bersabda ” La yu’minu ahadukum hatta yuhibba akhihi ma yuhibbu linafsihi (Hr. Bukhori Muslim). artinya ” Tidak sempurna iman kalian, sebelum kalian mencintai saudara kalian sebagaimana kalian mencintai diri sendiri”. Sedangkan Imam Ali r.a pernah berkata ” Saudaramu sesungguhnya adalah yang selalu bersama engkau, yang mau berpayah-payah untuk kemanfaatan dirimu, Yang jika situasimu berguncang, meninjukimu jalan kebenaran, maka hendaklah engkau lurus agar ia tetap bersamamu”.
Allah menciptakan segala sesuatunya dengan seimbang. Sehingga jika kita merasa risih dengan perilaku buruk saudara kita yang ada di sekitar kita, bisa jadi hal itu adalah cara Allah untuk mengingatkan kita bahwa kitapun memiliki perbuatan buruk yang sejenis, bahkan mungkin saja lebih buruk.
Sekali lagi hidup bagaikan GEMA. Cermin adalah gema kita. Cobalah berteriak :” kamu baik!” satu kali, maka gema akan membalasnya “kamu baik…! kamu baik…! dengan berulang-ulang. Tetapi kalau kita berteriak ” kamu jelek!” , maka gema akan membalas “kamu jelek…! kamu jelek…! kamu jelek banget…! Nha Lho!
Artinya, kata-kata kitapun adalah cermin diri kita yang sesungguhnya. kalau hari ini kita lebih suka melontarkan kata-kata yang tidak sopan, tidak senonoh, memaki, berprasangka buruk, memfitnah, dan sebagainya, maka itulah diri kita sesungguhnya. teko yang berisi teh , pasti akan mengeluarkan teh. manusia yang berisi keburukan dan dosa, pasti kata-katanya pun bernuansa buruk dan dosa.
Maka mulai hari ini, marilah kita menjaga kualitas kata-kata di hadapan saudara-saudara kita. jauhkan diri dari menghina saudara kita, sebab sebenarnya jikalau kita menghina saudara kita, maka kitalah yang hina. Orang-orang yang hina hanya akan mengatakan hal-hal yang hina. Oleh karena itu, mulailah belajar untuk berkata-kata yang baik, positi, dan terjaga.
Kitapun bisa bercermin dengan kejadian-kejadian yang ada di sekitar kita. Yang ada di alam semesta. Kita akan cerdas jika selalu bercermin. banyak sekali yang bisa kita pelajari hikmahnya dari semesta. Misalnya :
1. Kita bisa belajar dari ikan. Ternyata, ikan yang ditempatkan pada air yang bergerak akan lebih cepat besar daripada jika ia ditaruh di kolam atau air yang diam. Artinya, Kita akan lebih cepat dewasa ketika kita hidup dipenuhi berbagai macam ujian dan masalah. masalahlah yang membantu menggerakkan kita menuju impian kita.Tanpa adanya masalah mungkin kita tidak akan pernah sekuat ini, tidak akan pernah sesukses ini.
2. setelah belajar dari airnya, kita pun bisa belajar dari airnya. Ternyata, air yang bergerak dan mengalir, kesegarannya lebih tahan lama dibandingkan air yang diam. Air yang diam akan lebih cepat membusuk. Pelajaran yang bisa kita ambil adalah bahwa ketika kita lebih suka berteriak daripada bergerak, lebih suka mencaci daripada beraksi, lebih suka diam daripada berjuang, maka hidup kita akan lebih cepat busuk dan jauh dari kualitas.
3. Kita juga bisa belajar dari BINTANG yang bersinar terang di kegelapan malam. sehingga kita pun paham,agar bisa hidup menjadi sang bintang harus berani menghadapi kegelapan malam. Brani menghadapi masalah-masalah hidup kita yang sepertinya begitu runyam.
4. Kita pun bisa belajar dari hukum semesta yang bernama “The Law of Attraction”, yakni hukum ketertarikan. Pikiran dan perasaan kita menarik apapun yang ada di semesta , sesuai dengan frekuensinya. Sehingga, jika kita berbahagia maka kita sedang menarik atau mengundang kebahagiaan lainnya. sebaliknya, jika kita marah mengumbar emosi, maka kita pun sedang menarik emosi-emosi lainnya.
Dengan demikian, jika hari ini kita dekat dan sering berkumpul bersama-sama orang yang berperilaku negatif, maka sebenarnya kita pun negatif.Sebab, orang baik seringkali hanya berkumpul dengan orang baik, penjahat berkumpul dengan penjahat, orang mati berkumpul dengan orang mati, koruptor berkumpul dengan koruptor lainnya.Ingatlah, semanis apapun bua jeruk, tapi jika jeruk tersebut berada di tengah tumpukan sampah yang busuk, maka sebagian orang akan menduga bahwa jeruk itupun busuk.
Sekali lagi, apapun yang ada di sekitar kita adalah cerminan diri kita. Bercerminlah selalu dengan kehidupan kita, lakukan intropeksi, dan buatlah kita yang mewarnai lingkungan kita, dan bukan lingkungan yang mewarnai kita; kecuali bila kita sudah berada di lingkungan yang baik, maka bersyukurlah kepada Allah. Dan warnailah lebih lanjut dengan warna terbaik yang kita miliki.
wasalam. Semoga kita bisa mengamal isi di dalamnya amin………………..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: